Full width home advertisement

Perjalanan Umroh & Haji

Explore Nusantara

Jelajah Dunia

Post Page Advertisement [Top]

Dalam suatu seminar pernah terjadi perdebatan sengit tentang apakah status ibu rumah tangga termasuk kategori pekerjaan atau tidak. Meski perdebatan itu berakhir masih saja perempuan menghadapi situasi dilematis terhadap dua pilihan langkahnya, berkarier atau rumah tangga. Berkarier dengan segala kelebihan dan kekuranganya tentu membawa konsekuensi pada rumah tangga, sementara menjadi ibu rumah tangga semata akan menghambat aktualisasi potensi diri karena perempuan hanya akan berhadapan pada pekerjaan monoton, non-profit, dan rumah sendiri tak lebih sebagai terminal terakhir perempuan dimana di sana tak perlu pengasahan otak dan tuntutan SDM berkualitas tinggi. Dari sini terlihat bahwa status ibu rumah tangga lebih disandang dengan perasaan inferioritas tinggi dibanding karier yang terlihat jelas keunggulannya. Dalam hubungan bermasyarakatpun si perempuan akan memperkenalkan statusnya dengan suara lirih dengan mengatakan "saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa", atau seorang suami akan memperkenalkan status istrinya dengan nada suara merendah "istri saya tidak bekerja, ia hanya di rumah."


Bila ditelaah dengan seksama masing-masing profesi tentu bermuara sama yakni pada nilai kesungguhan dan keberhasilan yang akan dihasilkan, hanya performance-nyalah yang berbeda. Lalu benarkah stereotip yang berkembang bahwa ibu rumah tangga bukan suatu karier, dan karier hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat official dan profit semata? lalu status apa yang mesti disandang bagi perempuan yang memilih jalur rumah tangga sebagai pilihan hidupnya ? Tulisan ini mencoba mengulas posisi perempuan sebagai seorang ibu rumah tangga yang menjadikan rumah sebagai basis kariernya. Diantara banyak profesi yang ada, rumah bisa diposisikan sebagai basis karier perempuan pula, yang membutuhkan kesungguhan dan penanganan yang matang,well-planning, dan visi yang tinggi. Hanya anggapan yang melekat bahwa perempuan tidak bekerja bila perhatian dan tenaga yang dimilikinya dicurahkan di sanalah yang harus segera dieliminasi. Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea menuturkan:

My Wife Does Not Work

But then,
Who scrapes the sago?
Who tends the pigs?
Grows and sells the food
So that the family survives?
......
Who fetches the water?
Looks after the children?
Who nurses the sick?
Whose work provides the time
For the men to drink, smoke and play poltics with friends?
Who minds the children?
.......
Whose labour
unseen
Unheard
Unpaid
Unrecognised
Unhelped
Helps development?
Who dares to say
My wife does not work?

(Artinya: Istriku Yang Tidak Bekerja////Suatu ketika/Siapa yang mengerik sagu?/Siapa merawat ternak itu?/Menjadi tumbuh dan menjual makanannya/Hingga keluarga itu bertahan//Siapa menimba air di sumur?/Merawat dan menyayang anak-anak itu?/Merawat yang sakit?/Yang pekerjaannya menghabiskan waktu/Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya?/Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?//Yang perjuangannya/Tak- terlihat/Tak-terdengar/Tak-dihargai/Tak-terbantu./Membantu pembangunan?/Siapa peduli untuk bilang/Benarkah Istriku tidak bekerja?)

Puisi ini seakan ingin menggugah kesadaran masyarakat bahwa perempuan dalam segala upayanya baik di rural area maupun di kota-kota besar, bekerja siang dan malam dalam situasi yang berbeda untuk kemajuan dan kelangsungan hidup suatu keluarga. Menanami ladang , mencari air, mendidik anak, merawat si sakit menyediakan waktu untuk kepentingan suami yang sibuk dengan dunia perpolitikan, bertandang dan bekerja bersama koleganya. Segala kesibukan tersebut telah menguras energi, waktu, dan kesempatan perempuan, pada bentuk kerja yang tidak terlihat, terdengar, terbayar, tidak dikenal, tidak terbantu meski untuk suatu kemajuan......... dari realita ini siapa yang masih kuasa untuk mengatakan istri saya tidak bekerja?

Indah sekali bila diilusrasikan pada konteks kekinian di mana perempuan di rumah sibuk dengan segala urusan rumah tangga yang nampak sepele dan tidak ternilai namun membutuhkan suatu penanganan yang cermat. Merawat anak dan mendidiknya pada era teknologi bukan perkara mudah apalagi permainan anak dan tontonannya tidak lagi berupa hal-hal sederhana tapi perlu perhatian dan wawasan luas karena hal tersebut bagian dari target kapitalisme global. Pada setiap serbuan berbagai permainan elektronik dan modern maupun suguhan hiburan tentu membawa ekses-ekses negatif pada psikologis anak hingga tumbuh menjadi pribadi yang konsumtif, hedonistik, manja atau cengeng selain aspek positif lain berupa kemandirian atau kemampuan mengaktualisasikan diri pada anak.

Nabi s.a.w. bersabda "bahwa setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang akan membuat ia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Barangkali jika dianalogikan menjadi peran orang tua sangat besar dalam membentuk kepribadian generasi entah qur’ani kah, sekuler, marxis, hedonis, oportunis, kapitalis atau ateis. Hal ini tidak terlalu mengejutkan jika dicermati dengan perkembangan fasilitas teknologi dan internet atau komputerisasi dimana seorang anak lebih mengenal Pakemon, Dora emon atau memuja film-film produk Walt Disney, boneka Barbie, atau boneka Telletubis bahkan game-game yang seronok sekalipun yang dikemas dalam bentuk permainan anak dari pada mengenal rosul dan kisah-kisah para nabi. Tak perlu di salahkan peradaban yang telah mempromosikan produksinya namun akan lebih bagus jika tantangan jaman dihadapi dengan proaktif dimana ketika seorang perempuan dengan dukungan suami telah memilih rumah sebagai basis karier, itu berarti mempersiapkan suatu wawasan dan membuka cakrawala lebar akan segala kemungkinan yang bakal datang di jaman generasi selanjutnya. Hal itu tentu tidak bisa dicapai dengan proses yang alami namun perlu pembelajaran sejak dini.

Dalam bukunya Stephen R.Covey pernah memaparkan suatu kejadian yang menimpa sebuah keluarga dimana sang anak yang baru menginjak usia tujuh tahun telah menjadi penonton setia sajian pornografi di situs internet, inipun di peroleh dari kawan seusia anak tersebut dari hasil perambahan di dunia maya. Atau penemuan The Ladies Home Journal Amerika bahwa pada umur 13 tahun 1 dari 12 anak bukan perawan lagi dan 45% anak laki-laki telah melakukan kegiatan seks bebas. Hal di atas bukan tidak mungkin terjadi di lingkungan terpencil di pelosok Indonesia. Di tanah air, kasus tindak kekerasan, tawuran, prostitusi di bawah umur, drug addiction menjadi sajian berita yang tak asing. Dengan demikian tantangan keluarga dalam mendidik anak sangatlah besar. Bekal mendidik generasi tidak hanya ditanggung oleh lembaga pendidikan atau lingkungan namun keluarga sangatlah menentukan. Dan peran ibu sangatlah besar, dan ini tidak cukup dengan kuantitas ibu berada bersama anak tapi kualitas pun sangat perlu. Ini terbukti dari banyak anak nakal hasil didikan dari ibu rumah tangga meski juga dari background ibu yang berkarier.

Hingga sampai pada kesimpulan bahwa profesi orang tua atau ibu tidaklah menjamin keselamatan anak atau generasi yang bakal lahir dari keluarga tersebut. Keseriusan dalam mendidiklah yang menentukan selain hal itu ditunjang dengan bekal ilmu yang tidak sedikit baik wawasan psikologis,perkembangan teknologi, pemahaman terhadap trasformasi sosial yang ada dan pendidkan dasar beragama atau moral.

Ada beberapa hal yang mungkin diabaikan sebagian perempuan atau laki-laki ketika mendidik suatu generasi bahwa semua itu ditangani dengan ala kadarnya tanpa perencanaan dan pemantauan serius hingga generasi yang dihasilkan pun jauh dari yang dicita-citakan Islam. Maka bila seorang perempuan telah konsis dengan pilihannya untuk menjadi ibu rumah tangga maka ini adalah karier pula yang perlu keseriusan dan ketekunan penuh, bukan inferiority. Karena rumah bukan terminal akhir bagi perempuan yang tidak berkarier di luar rumah, aktualisasi bisa berawal dari sini. Akankah generasi yang dididik dengan intensitas tinggi dari keberadaan seorang ibu di rumah, jauh lebih baik ditinjau dari segi kualitas moral dan kepribadian? atau hasil didikan seorang ibu yang menjadikan rumah sebagai profesi sambilan setelah karier di luar rumah lebih baik?

Mengendalikan roda rumah tangga, mendidik generasi yang baik dan berkualitas tentu membutuhkan SDM yang berkualitas unggul, yang akhirnya sampai pada firman Allah "Katakanlah tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya"(QS 17;84). Tak perlu ragu untuk mengatakan dengan mantap status perempuan atau istri bahwa ia berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tentu dengan memberi dukungan moril dan spiritual sehingga profesi ini pun sejajar denga profesi-profesi lain agar lebih mmpunyai target yang jelas dan pencapaian yang matang. Wallahua’laam.

Sumber : Pesantren Virtual

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| All Rights Reserved - Designed by Colorlib